
Musik, Jendela Melihat Realita Sosial
Musik seringkali dimaknai semata sebagai media hiburan. Tempat manusia melarikan diri dari realita yang menekan. Sebuah dunia yang asing, dunia mimpi, tempat berlabuhnya jiwa-jiwa yang letih dari kenyataan hidup. Itu sebabnya ia lebih dipandang hanya sebagai media seni yang hanya dekat dengan MP3 player, headphone dan kesendirian. Orang lupa bahwa sebelum teknologi mendominasi media seni ini, musik telah menjadi bagian yang lekat dengan berbagai aktifitas penting dalam hidup manusia, apakah itu dalam bekerja di ladang, membesarkan anak hingga bagian inti dari upacara keagamaan. Singkatnya, ada masa dimana musik dan kehidupan sosial adalah hal yang tak terpisahkan.
Waktu : Jumat, 20 November 2009, pukul 14.00 s.d. Selesai
Tempat : Minima Theater, Episentrum Ulee Kareng. Jl. Lamreung No 20. Ulee Kareng.
Sinopsis Film
PLATTLN IN UMTATA
Peter Heller, Germany, 2007, 93 min, Indonesian subtitle
Film ini menampilkan gambar dan suara hasil pertemuan musisi Bavaria dengan dunia bunyi beraneka ragam Afrika Selatan: sebuah perjalanan melalui keributan townships kota besar dimana manusia dari berbagai budaya dan dengan berbagai latar belakang musik saling berhubungan. Tarian dan persentuhan timbal balik. Tapi juga pelarian ke Afrika dibangun atas klise dan ruang-ruang kerinduan kita: melalui taman nasional dengan binatang liar besar, ke padang rumput luas dan padang pasir yang mengagumkan. Menemukan pemandangan yang indah.
MUSISI MENCARI STATUS
Ary Agung Wibowo, M. Leo Zainy
Indonesia. 2008. 21 menit
Profesi musisi masih dinilai orang sebagai pilihan yang tidak mapan, apalagi bagi orangtua atau calon mertua yang hanya terpaku pada kekurangannya. Meskipun menjabat anggota tetap band Tani Maju, Leo akhirnya melakoni ‘kerja sambilan’ sebagai guru, justru setelah perjalanan asmaranya kandas.
Pemutaran film tersebut akan dilanjutkan dengan diskusi dengan fokus kajian: “Musik, jendela melihat realita sosial” yang akan menampilkan: Ari Pahlawi, S.Sn., M.A. (Dosen FKIP Unsyiah).
Berbeda dengan jenis film lain, film dokumenter lebih langsung dan nyata mengangkat peristiwa atau isu dalam masyarakat kita, sehingga bisa menjadi bahan refleksi bagi pemerintah dan masyarakat untuk secara kolektif bersikap atas isu-isu yang ada.
Maka dari itu kita pun jadi percaya bahwa; sebuah bangsa tanpa film akan seperti sebuah keluarga tanpa album foto!
Salam Episentrum Ulee Kareng!
Gratis dan terbatas
CP : AKMAL M.ROEM (085260342687) E-mail :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan.
Jln. Lamreung No 20. Ulee Kareng Banda Aceh